Antara Pemilu dan Emak Emak

Meily Rahmi, sekretaris Pekat IB DPD kota Padang

SALAM hormat dan salam bijak. Saudara dan saudariku setanah air, yang mencintai NKRI sebagai harga mati. Harga tertinggi yang tidak akan di tawar-tawar lagi.

Sebentar lagi, akan di gelar pesta demokrasi Indonesia yang sangat kita tunggu-tunggu.
Bagaimana tidak? Perhelatan besar inilah yang akan merubah nasib Indonesia selama 5 tahun kedepan.

Semoga saja, perubahan kali ini kearah yang lebih baik. Sebagai mana yang kita harapkan bersama-sama.

Berbagai tunas-tunas baru muncul demi ikut dalam kompetisi kali ini. Tak hanya dari kalangan matang usia, namun juga dari kalangan milenial pengusung perubahan.

Tak hanya dari kalangan pengguna pakaian celana saja, namun juga dari kalangan pengguna rok. Laki- laki dan perempuan.

Tetapi mengapa sepintas lalu kita lihat, keinginan berkompetisi para Emak- Emak ini, makin kesini makin lemah terdengar?

Mulai banyak kita dengar dari mulut para Emak- Emak, lebih baik memikirkan mulut anak dari pada memikirkan mulut peserta pemilu.

Bukankah hasil pemilu nantinya akan menjadi tolak ukur keberhasilan negara nantinya? Dan keberhasilan negara berbanding lurus dengan kemampuan negara memberi makan anak- anak bangsa?
Kalau demikian, apa yang harus dilakukan para Emak- Emak jaman now ini?

Apakah ada hubungannya pandangan Emak- Emak jaman now ini dengan keberhasilan pesta demokrasi yang sebentar lagi akan di gelar?

Jawaban berbeda namun memiliki keterkaitan mendalam dari dua buah pertanyaan.

Emak - Emak jaman now, sebagai pembisik profeaional dari lelaki- lelakinya berperan sangat penting dalam keberhasilan pemilu ini.

Bagaimana tidak? Bukankah semboyan yang selama ini sering didengungkan itu adalah, Dibelakang lelaki yang hebat ada perempuan yang lebih hebat lagi?

Bukankah bisikan, dorongan dan sokongan Emak- Emak berperan penting dalam maju tidaknya pandangan seorang laki- laki?

Lalu apa yang harus di lakukan oleh Emak- Emak jaman now? 

Sebaiknya, Emak- Emak jaman now mulai membiasakan asupan politik sedikit demi sedikit.

Tak hanya berguna untuk bisikan- bisikan profesional kepada lelakinya. Namun juga sebagai bekal perpolitikan anak- anaknya dalam persiapan di kancah praktek perpolitikan bangsa.

Mulailah sekiranya kepada para ahli demokrasi, ahli politik ataupun ahli ketatanegaraan agar mulai melirik kepada para Emak- Emak demi kesuksesan pesta demokrasi yang akan segera kita gelar.

 Dan bukankah menurut pasal 65 UU No 12 Th 2003 tentang pemilu, setiap partai politik yang akan mengajukan calonnya, minimal harus menyertakan keterwakilan suara perempuan ( Emak- Emak) sedikitnya 30%?
Dan menurut UU No 22 Th 2007 tentang pemyelenggaraan pemilu mengatur agar penyelenggara pemilu memperhatikan keterwakilan perempuan minimal 30%?

Sebegitu pentingnya peran serta Emak- Emak dalam kepemiluan ini. Masihkah akan kita pertahankan pandangan bahwa Emak- Emak cukup sebagai pendidik anak saja. Hanya memikirkan apa yang akan di berikan ke pada mulut anak nya saja.

Saatnya para Emak- Emak jaman now untuk merubah mainset masing-masing, demi ketersediaan makanan di meja makan untuk putra- putrinya.

Saatnya Emak- Emak jaman now berpikir lebih baik, dan berubah demi NKRI yang lebih baik lagi.

Dengan cara ikut serta dalam perhelatan akbar ini, dan menyingkirkan paham "politik bukan untuk Emak- Emak".
Labels:

Post a Comment

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.